Mitologi Charybdis dan Scylla

Mitologi Charybdis dan Scylla

daftarhewanmitos.web.id – Charybdis dan Scylla adalah mahluk mitologi yang berbentuk ular laut, kisah nya di mulai dari zaman dewa Zeus. Sampai hari ini, monster-monster laut masih menjadi teror bagi semua pelaut yang lewat dan menjadi sumber dari banyak kisah.

Dahulu kala, seorang peri yang cantik lahir dari dewa agung laut, Poseidon. Namanya adalah Charybdis. la mencintai dan mengagumi ayahnya dengan sepenuh hati. Jadi, ketika Poseidon pergi berperang dengan dewa agung Zeus dan menciptakan badai besar, Charybdis menaiki ombak pasang, memimpin air ke pantai. Dengan demikian laut menelan desa, ladang, hutan dan kota, menaklukannya untuk dewa laut.

Setelah beberapa waktu, Charybdis telah memenangkan banyak tanah untuk kerajaan ayahnya, dan Zeus menjadi marah padanya. la bersumpah untuk menghentikan dia untuk selamanya, dan untuk melakukan ini ia mengutuknya menjadi monster – bermulut besar menganga; lengan dan tungkai kakinya menjadi kelepak renang.

Baca Juga :

Sejak saat itu Charybdis terpaksa hidup di dalam gua di bawah sebuah pohon ara di sebuah pulau kecil di Selat Messina. Setiap hari, tiga kali sehari, Charybdis menghisap berliter-liter air laut, dan kadang-kadang kapal yang lewatpun terhisap bersama air. Ketika Charybdis menelan, ia menciptakan suatu pusaran air. Orang yang melihat ke bawah pusaran air dapat melihat bebatuan di bawahnya; para pelaut dapat mendengar raungan yang mengerikan ketika ia memuntahkan air, menciptakan arus putar yang tak henti dan berbahaya. Ratusan pelaut tenggelam di dalam air ganas yang diguncang oleh kemarahan Charybdis.

Disisi lain dari selat kecil antara Itali dan Sicilia ini hidup monster lain, Scylla. Seperti Charybdis, dulunya Scylla juga bukan monster. la lahir sebagai peri – puteri dari Phorcys – tetapi suatu hari, Glaucus, seorang nelayan yang telah berubah menjadi seorang dewa laut, jatuh cinta padanya. Scylla tidak membalas cintanya dan melarikan diri darinya. Karena putus asa dan ingin meyakinkan dia bahwa ia mencintainya, Glaucus pergi menemui dukun Circe. Di sana ia meminta ramuan cinta yang dapat melumerkan hati Scylla.

Malangnya, ketika Glaucus menceritakan kisah cintanya kepada Circe yang sudah tua, dukun ini jatuh cinta kepadanya. la berusaha meyakinkan Glaucus untuk melupakan Scylla dan untuk jatuh cinta kepadanya, tetapi Glaucus tidak mengacuhkannya; hatinya milik sang peri. Ini membuat Circe marah. Untuk menghukum saingannya, ia menyiapkan sebotol racun dan menuangkannya ke kolam di mana Scylla mandi.

Begitu Scylla berjalan memasuki kolam untuk mandi, ia berubah menjadi monster yang menakutkan dengan enam kepala, masing-masing dengan tiga baris gigi yang lebih tajam daripada pisau. Sekarang ia tidak cantik lagi tetapi adalah mahluk yang sangat besar dengan 12 kaki dan tubuh yang terdiri dari anjing-anjing yang menyalak mengerikan. Karena tidak bisa bergerak, ia tinggal di dalam penderitaan di sebuah celah di bawah laut dan menghantam semua kapal yang lewat.
Manakala sebuah kapal berlayar terlalu dekat, setiap kepala Scylla menyerang seorang anggota pelaut dan menghancurkannya di dalam mulutnya yang mengerikan.

Sejak Charybdis tinggal di salah satu sisi selat biru itu, Scylla tinggal di sisi lainnya. Kedua monster itu menjadi bencana bagi semua pelaut. Setiap orang mempunyai kisah tentang teror yang ditimbulkan oleh mereka. Kedua sisi selat itu begitu dekat sehingga mereka yang mencoba menghindari Scylla akan berlayar terlalu dekat dengan Charybdis, sehingga beresiko terjurumus ke dalam pusaran air. Tetapi mereka yang berusaha menghindari Charybdis akan bergerak terlalu dekat kepada Scylla, dan banyak yang punah di dalam terkaman giginya.

Di antara mereka yang berurusan dengan kedua monster itu adalah Odysseus yang agung – seorang pelaut yang berani dan cerdas – dan juga beruntung, karena para dewa melindunginya. Circe telah memperingatkan Odysseus dan krunya tentang kedua monster itu. Mengetahui hal ini, Odysseus
percaya bahwa ia bisa lewat dengan aman, dan ketika dia dan kru-nya mendekati selat, mereka sangat siaga, mewaspadai gemuruh pusaran arus air ketika Charybdis menelan; suara gemuruhnya menyiapkan dia untuk menjaga jarak.

Malangnya, terlepas dari seberapa keras mereka berusaha, mereka tidak dapat mengamati Scylla, yang tersembunyi di bawah laut. Dan ketika mereka dapat melewati Charybdis dengan aman, Scylla muncul dengan kepala-kepalanya yang mengerikan. Dengan setiap mulutnya, ia menangkap pelaut, dan keenam pria itu menjerit ketakutan ketika Scylla menyeretnya ke bawah laut.

Odysseus belum pernah melihat pemandangan yang lebih mengerikan dari pemandangan itu. la berdiri tanpa daya di geladak, tak mampu menyelamatkan orang-orangnya. Hatinya hancur ketika ia mendengar gema jeritan setelah Scylla menangkap mereka. Tentu saja ini bukan akhir dari kesulitannya – ia masih harus menghadapi pulau matahari, dengan kelaparan dan kutukannya, angin busuk dan badainya.

Petir segera menghancurkan layarnya, dan kapalnya terbelah berkeping-keping. Terjebak di atas sebuah rakit, sekali lagi Odysseus terbawa ke selat untuk menghadapi Charybdis dan Scylla. Kali ini ia lewat terlalu dekat dengan Charybdis, dan dengan satu hisapan besar, ia menelan rakitnya. Tetapi, pelaut yang pandai ini melompat menyelamatkan diri dengan berpegangan ke pohon ara yang menonjol di tebing.

Ketika akhirnya Charybdis memuntahkan rakitnya yang sudah patah, Odysseus menjatuhkan diri ke salah satu papannya dan mendayung dengan tangan ke luar dari selat. Begitulah caranya ia selamat, tidak seperti banyak orang lain.

Sampai hari ini, monster-monster laut masih menjadi teror bagi semua pelaut yang lewat dan menjadi sumber dari banyak kisah. Sekarang ini mereka lebih tenang, tetapi laki-laki dan perempuan laut sejati akan memahami bahaya yang mengintai di bawah air, tak nampak tetapi tak lekang dari ingatan.

Related posts